Tentang Rumah, Kamu dan Aku

Sembilan tahun yang lalu, aku pernah merasa tidak punya siapa-siapa di kampung halaman sendiri.

Aku tinggal di tempat yang seharusnya kusebut rumah, tetapi rasanya seperti hanya sebuah tempat untuk pulang. Tidak ada teman yang benar-benar dekat. Tidak ada seseorang yang membuatku merasa bahwa keberadaanku di sini berarti. Entah karena aku memang tidak pandai bergaul, atau mungkin karena dunia kami memang tidak pernah benar-benar bertemu.

Saat itu aku tidak terlalu peduli.

Bagiku, tinggal di sini atau di tempat yang jauh rasanya sama saja.

Sampai suatu hari aku melihatmu.

Aku tidak tahu apa yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Hanya sebuah pertemuan sederhana yang entah bagaimana membuatku ingin mengenalmu lebih jauh.

Dan sejak saat itu, sesuatu di dalam diriku berubah.

Untuk pertama kalinya, aku mulai melihat tempat ini dengan cara yang berbeda. Jalan yang dulu terasa biasa, rumah yang dulu hanya menjadi tempat pulang, dan kampung yang dulu terasa asing perlahan memiliki arti.

Aku mulai berpikir, mungkin aku ingin tinggal di sini.

Bukan karena tempat ini tiba-tiba menjadi lebih indah.

Tetapi karena di tempat ini ada seseorang yang ingin kukenal lebih jauh.

Mungkin terdengar sederhana. Tetapi ternyata, seseorang bisa membuat sebuah tempat yang tidak pernah kita cintai menjadi tempat yang ingin kita tinggali selamanya.

Aku mulai mengenal rumahku sendiri setelah mengenal seseorang yang membuatku ingin tinggal di dalamnya.

Hanya saja, waktu berjalan lebih cepat daripada keberanianku.

Entah aku terlalu malu untuk mengatakan apa yang kurasakan, atau memang aku terlambat menyadari bahwa perasaan yang kusimpan ternyata begitu berarti.


9 Oktober 2026

Komentar

Postingan Populer